Artikel

Kebijaksanaan Rakyat Tentang Mudik

Oleh:  Muhammad AS Hikam

Pak H adalah penjual sayur-sayuran, ikan, bumbu dapur sehari-hari dengan gerobaknya berkeliling kompleks perumahan, dan juga di kampung saya. Isteri saya sering juga berbelanja atau kadang-kadang malah titip ke Pak H agar dibelikan pesanan ke pasar sembari kulakan tiap dini hari.

Seperti ratusan penjual gerobagan, beliau bukan orang Betawi, tetapi orang dari luar DKI. Jakarta Persisnya dari Wonogiri, Jawa Tengah. Dan karenanya, mudik sebelum Lebaran adalah sebuah sine qua non. Bukan cuma soal tradisi untuk setor muka kepada keluarga besar di kampung saja, tetapi juga kesempatan untuk bisa nyekar (ziarah kubur) kepada para sesepuh dan anggota keluarga yang sudah tiada.

Maka agak heran ketika isteri saya masih melihat Pak H belum mudik beberapa hari sebelum jatuh tanggal larangan mudik yg ditetapkan Pemerintah. Dikiranya Pak H dengan rombongan Wonogirian-nya sudah berangkat mudik, agar terhindar dari pelarangan. Karena heran, maka isteri saya bertanya:

*I: ” Pak H gak mudik to tahun ini?”

H (dg logat Betawi+Wonogiri): “Mudik dong Bu lah!.”

I : “Lha ini kurang beberapa hari. Entar kena cegatan loh, malah disuruh balik.”

H: “Enggak lah Bu, itu kan orang-orang mudik yang gak tahu caranya. Kalau tahu ya tetap mudak-mudik kapan saja.”

I : “Lho apa mau selundap-selundup Pak? Kan sama rombongan se mobil Elf  besar itu yang 15 atau lebih orang?”

H : ” Gak lah bu, kita mah terang-terangan dan santai seperti tahun-tahun sebelumnya..”

I (heran): “Gimana Pak caranya?”

H : “Gini lho bu, yang pada kena cegatan itu kalau dekat-dekay situ ada wartawan. Nah tentu akan diperiksa kalau wartawan pada ngerumunin Polisi. Polisi gak enak kalau membiarkan ada pemudik lewat. Sebenernya mah pak Polisi baik-baik saja. Pengertian kok mereka sama orang kecil kayak saya ini.”

I : ” Jadi yang bikin cegatan itu karena ada wartawan ya?”

H : “Ya pokoke hati-hatilah, waspada jangan sampai ketahuan wartawan… Bisa repot mudiknya..!”

I : ” Oooo… gitu ya Pak. Jadi mau mudik seperti dulu, pas dekat-dekat lebaran?”

H :  “Ya iyalah… Wajib hukumnya, hehehe…”*

Pak H dan para wong cilik seperti beliau punya wisdom alias kebijaksanaan mereka tersendiri. Entah bisa dibuktikan secara empiris atau tidak, tetapi mereka bukan pula sekedar omong tanpa alasan. Mudik, bagi mereka, adalah keharusan atau keniscayaan dalam pandangan “dunia dalam” dan praksis kehidupan mereka. Larangan mudik dan cegatan oleh aparat mereka pahami sebagai bagian dari tugas aparat yg harus dilakukan juga. Tetapi sesama manusia yang menghargai dan menghormati tradisi, kadang-kadang bisa juga dicari “solusi”nya. Dengan bijak dan waspada. Dan kalau saya tidak keliru, menurut James C. Scott, antropolog dari AS, kebijaksanaan itu masuk dalam apa yg disebutnya everyday act of resistance and weapon of the weaks.  (Perlawanan keseharian dan senjata mereka yang lemah).  IMHO*

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Back to top button