Artikel

Tentang Hadits Tasyabbuh (Menyerupai)

Oleh: KH Taufik Damas

 

Sebuah hadits dari Ibnu Umar, Nabi saw. bersabda:

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُم

Yang artinya:“Barangsiapa menyerupai satu kaum, maka ia bagian dari kaum itu.” (HR Imam Ahmad dan Imam Abu Daud)

Hadits di atas  sangat populer. Tidak sedikit Muslim yang menjadikannya sebagai dalil untuk “mengkafirkan” orang lain yang menyerupai kegiatan atau tradisi orang-orang non-muslim.

Cara pandang seperti ini jelas mewakili konservatifisme dan ekstimisme (tatharruf) pandangan keagamaan.  Islam mengajarkan umatnya untuk menjadi bagian tak terpisahkan dari umat manusia. Tidak ada larangan umat Islam menyerupai atau menampakkan kesamaan dengan umat-umat lainnya .

Umat Islam adalah anak-anak zaman, bukan manusia-manusia yang hidup terpisah dari umat manusia lainnya dalam tempat dan masa. Bahkan, umat Islam harus menjadi motor penggerak hidup berkeadaban dan berkemanusiaan di dunia ini.

Dalam sejarah, Nabi Muhammad saw. pernah memakai  jubah dari Syam. Nabi saw. juga pernah meniru berpuasa pada hari Asyura dari orang-orang Yahudi.

Melihat orang-orang Yahudi berpuasa pada hari Asyura,  Nabi bersabda saw., “Kami lebih berhak terhadap Nabi Musa dari pada kalian (orang-orang Yahudi).” Beliau lantas melakukan puasa pada hari Asyura dan mengajak kaum Muslim untuk berpuasa.

Begitu pula halnya dengan para sahabat. Dalam sejarah, Umar bin Khattab ra. tidak segan mengambil aturan (sistem hukum) yang ada pada umat lain. Selama ada manfaatnya, maka boleh menyontek kebiasaan atau apapu dari umat di luar Islam.

Dalam Islam, selain ilmu, ada hikmah. Hikmah adalah kebaikan atau kearifan yang ada pada masyarakat mana pun. Umat Islam boleh meniru/mengambil kebaikan dan kearifan itu di mana pun ditemukan. Hikmah adalah barang hilangnya orang beriman. Di manapun ia temukan, maka ia berhak mengambilnya.

Begitu pun dengan tradisi. Tidak ada larangan mengambil atau meniru tradisi dari umat mana pun selama tradisi tidak mengandung mudarat.

Allah Swt. berfirman:

خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ

“Pilihlah memaafkan dan perintahkanlah menjalankan tradisi (yang baik).” (QS Al-A’raf: 199).

Menjadikan hadits tasyabbuh di atas sebagai dalil mengkafirkan hanya karena penyerupaan pada orang-orang non Muslim adalah tanda kejumudan, konservatisme dan tatharruf.

Ingatlah: definisi iman adalah mengakui dengan lisan, meyakini dengan hati dan melakukan kewajiban yang menjadi konsekuensi dari pengakuan dan keyakinan. Jadi sungguh sangat gegabah jika hadis tasyabbuh di atas dijadikan dalil untuk mengkafirkan orang Muslim hanya karena dia masuk gereja.

Dalam menyerupai, yang dilarang adalah meyerupai dalam ibadah dan perbuatan yang diharamkan dalam Islam. Muslim tentu tidak boleh beribadah dengan cara ibadah non-Muslim. Setiap umat beragama memiliki cara-cara khusus dalam beribadah, dan berbeda-beda. Ini sangat jelas.

Begitu pula, Muslim tidak boleh menyerupai perbuatan non-Muslim yang diharamkan oleh Islam, seperti makan daging babi dan lain-lain.

Jadilah orang-orang beriman yang serius. Iman yang sesuai dengan definisinya, bukan iman yang dikarang-karang sendiri.

Jika ada orang yang ragu dengan imannya, hingga dia merasa takut imannya berubah karena hal-hal tertentu, maka dia tidak boleh memandang kadar iman orang lain seperti kadar imannya.

Saya pribadi selalu memandang orang lain memiliki iman yang kuat dan baik. Saya tidak berani meremehkannya. Karena iman seseorang adalah urusan dirinya dan Allah saja. Kamu tidak boleh memonten iman orang lain. Wallahu a’lam.

 

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also
Close
Back to top button