Berita

Menggambar Gus Dur

Melukis atau menggambar KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur itu tak pernah membosankan.

Oleh: Ilham Khoiri

Seniman, Pelukis, Wartawan KOMPAS

Melukis atau menggambar KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur itu tak pernah membosankan. Berkali-kali saya melakukannya, dan rasanya selalu menggembirakan. Secara visual, anatomi wajah dan tubuhnya memang sangatlah khas. Mudah dikenali. Ikonik. Asyik untuk digambar. Secara personal, sosok istimewa.

Berangkat dari tradisi Nahdlatul Ulama (dia merupakan cucu pendiri NU), Gus Dur tumbuh besar melampaui komunitas Nahdliyin. Dia manusia multidimensi atau multitasking yang pernah hidup di negeri ini.

Mengeyam pendidikan di Mesir dan Iraq, Gus Dur pulang kampung dan mengabdi untuk pesantren di Jombang. Bersamaan dengan aktivitas dan ketokohannya yang kian diakui, Gus Dur kemudian menjadi ketua umum PB NU. Dia membawa sebarek program pengembangan keumatan, keislaman, dan keindonesiaan.

Dia juga banyak berceramah dan menulis, dan kemudian menjadi buku. Dia gemar musik, sepakbola, bahkan pernah dipercaya sebagai Ketua Dewan Kesenian Jakarta (DKJ). Saat Reformasi 1998, bersama tokoh-tokoh NU, dia mendirikan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Lewat partai ini, kemudian dia masuk ke Senayan dan terpilih sebagai presiden RI.

Meski hanya sebentar, posisinya sebagai presiden benar-benar dimanfaatkan untuk mewujudkan cita-cita demokrasi. Tak hanya diucapkan sebagai wacana, demokrasi dijalankan dalam alam nyata. Semasa kepemimpinannya, sosok presiden menjadi sangat santai, asyiklah pokoknya.

Lalu terjadilah intrik politik. MPR berkomplot memakzulkannya dari kursi presiden dengan alasan yang terkesan dibuat-buat. Namun, Gus Dur sama sekali tidak terlihat hendak mengerahkan massa, meski itu bisa dilakukan dengan dukungan penuh siap bergerak dari akar rumput Nahdliyin.

Semasa jadi presiden, Gus Dur mencabut aturan diskrimatif terhadap warga keturunan Thonghoa. Sejak itu, mereka bebas berkespresi sampai sekarang. Ini warisan penting yang mungkin melampaui presiden dengan kekuasaan lebih lama.

Pernah mencapai puncak kekuasaan politik di Indonesia, tapi dia lebih senang dianggap sebagai seorang demokrat, pejuang demokrasi. Memang, demokrasi jadi salah satu gagasan pokok yang diusung Gus Dur. Itu ditunjukkannya dengan membela kelompok minoritas, melawan kebijakan dzalim, menantang mayoritas atau arus utama yang dianggap diskriminatif.

Kalimat “Gitu aja kok repot” ( كيتو أجا كوك ريفوت ) dapat dibaca sebagai cerminan pandangan dunia Gus Dur. Pesannya terang: kita mesti terbuka dan belajar menerima perbedaan. Rileks. Jangan mudah suntuk mempertahankan satu perspektif secara membabi buta seraya menegasikan pendapat lain. Kita punya kebenaran, tapi orang lain juga berhak mengklaim kebenarannya masing-masing. Di tengah kenyataan kemajemukan, kita harus hidup secara bersama, saling menghargai, dan menjadikan kebersamaan sebagai modal untuk membangun negeri ini hingga tercapai mimpi “baldatun toyyibatun wa rabbun ghofur”.

Maka, Selasa (7 Desember 2021), dengan hati gembira, saya bangun subuh. Udara masih dingin di luar, agak gelap. Saya tata kanvas di depan pintu, nyalakan lampu, lantas putar musik “Ameno” dari Era. Saya mulai menggambar.

Saya kembangkan sketsa alias coretan cepat sekilas yang saya buat sehari sebelumnya, menjadi gambar lebih detail. Dasar gambar ini adalah foto dari internet yang telah didistorsi dengan hanya mengambil bagian paling ikonik dari wajah Gus Dur: kacamata, mulut tertawa, dan giginya yang tidak rata. Wajah hanya separuh karena itu sudah cukup mewakili memori visual tentang sosok ini.

Pakai cat akrilik warna hitam dan abu-abu, juga arang, saya gambar terlebih dulu mata dan kacamatanya, turun ke mulut dan gigi, lantas hidungnya. Ternyata, proses ini lumayan cepat. Sekira jam 8 pagi, gambar sudah kelar.

Separuh wajah Gus Dur memenuhi bidang kanan kanvas. Bidang kiri saya isi dengan kalimat “Gitu aja kok repot”, tapi dituliskan dalam aksara Arab. Kaligrafi tak menggunakan kaidah khusus, melainkan dicoret cepat–macam stenografi–dan berulang sehingga menumpuk. Kesannya, aksara itu kayak reriungan, atau mirip gerimis yang menitis berulang-ulang.

Begitu kelar, lukisan langsung dikemas dalam peti kayu, lalu dikirim ke Yogyakarta. Tujuannya, untuk disertakan dalam Pameran “Bersama dalam Beda, Berbeda dalam Sama” di Gedung Prof Amin Abdullah, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, 15-22 Desember 2021. Pameran dijadwalkan dibuka pada Rabu, 15 Desember 2021, dengan siaran langsung di Youtube.

Ada banyak seniman, terutama dari Yogyakarta, yang berpartisipasi dalam pergelaran ini. Kurator pameran, Mas Sanjaya Kuss Indarto aka Kuss Indarto Kusnan , memberikan catatan saat mengundang seniman: pameran “Bersama dalam Beda, Berbeda dalam Sama” ini memberi peluang seluas-luasnya bagi para perupa yang bergerak dalam banyak ragam medan dan medium seni rupa untuk terlibat memikirkan kembali (re-thinkhing), membaca kembali (re-reading), dan menemukan kembali (re-inventing) nilai-nilai pluralisme atau keberagaman yang telah banyak bergerak di sekitar sebagai nilai lokal untuk dikembangkan lebih lanjut dengan bentuk ungkap dan sistem pemahaman yang (sebisa mungkin) lebih baru dan dalam. Ujungnya adalah sebuah perhelatan seni rupa yang memberi muatan nilai-nilai kultural yang menginspirasi dan membawa kebaikan dan kemaslahatan bersama.

Saat ini, kurator, co-kurator, tim teknis, dan semua kru panitia lagi berjibaku menata panel dan karya seni rupa yang mulai berdatangan. Semoga semua proses berjalan lancar sampai pameran kelar. Apresiasi untuk civitas akademika UIN Joga di bawah kepemimpinan Mas Rektor Al Makin yang support pameran ini. Untuk para sedulur, semua seniman yang terlibat, moga sehat senantiasa, tetap semangat berkreasi.

Gagasan pluralisme memang perlu terus dikampanyekan, lewat beragam medium. Ceramah, tulisan, foto, siaran televisi/radio, postingan di medsos, juga melalui karya seni rupa. Siapa tahu, justru dengan idiom estetika visual, semangat hidup bersama saling menghargai ini menjadi lebih asyik.

(Sumber: Akun Facebook Ilham Khoiri, diambil atas izin Ilham Khoiri)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button