In Memoriam

Pendeta Nico Mauri, S.Pd.K: Kita Rindu Tokoh Seperti Gus Dur!

SANTRINEGUSDUR.COM, JAKARTA- Sebagai tulisan pertama dari serial Orang Papua Bicara Gus Dur, Santrinegusdur.com mengangkat sosok pendeta asal Kota Jayapura, Papua: Pendeta Nico Mauri, S.Pd.K.

Pendeta Nico Mauri lahir di Jayapura, Papua, pada tanggal 23 November 1954. Di usia 6 SD, tepatnya tahun 1968,  dia merantau ke Jakarta. Sempat menjadi juru parkir di daerah Jakarta Pusat dan tinggal di Tanah Abang, menjadi pemain sepak bola di Persija, kemudian kembali ke Kota Jayapura, Papua dan bekerja sebagai PNS sampai pensiun. Dia kuliah di sebuah sekolah tinggi teologi di Papua hingga sarjana dan menjadi pendeta serta wakil pemimpin Gereja “Karya Roh Kudus” yang dipimpin oleh adiknya, Pendeta Marthen Mauri, STH sampai saat ini. Gerejanya ini merupakan bagian dari Sinode Gereja KINGMI klasis Kota Jayapura, Papua. Ketika saya temui, dia sedang di Jakarta untuk keperluan keluarga.

Pertemuan dengan Pendeta Nico Mauri dimulai jam 10 pagi lewat di resto Bangi Kopi, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Kamis  (3/03/20222).  Saya datang lebih awal. Tidak begitu lama,  dari dalam ruangan resto, saya melihat sebuah mobil jenis sedan warna hitam berhenti di halaman resto. Dua penumpang, pria dan perempuan, yang turun dengan penampilannya sudah bisa saya tebak: Pendeta Nico Mauri dan istrinya. Saya bergegas keluar ke halaman resto untuk menyambut keduanya langsung. Kesan pertama saya: dia sosok yang ramah dan murah senyum.  Saya antar keduanya ke dalam resto dan duduk di meja yang sudah disiapkan.

Obrolan saya dengan Pendeta Nico Mauri diawali saling sapa, dan saya lebih dulu mengenalkan dir sebagai aktivis Santrine Gus Dur yang mengelola situs santrinegusdur.com. Saya sampaikan bahwa pertemuan ini untuk konten situs santrinegusdur.com dengan mengangkat persoalan politik dan keamanan di Papua serta penyelesaian konfliknya melalui pendekatan ala Gus Dur (KH Abdurrahman Wahid), Presiden RI ke-4.

Ketika saya menyampaikan penyelesaian konflik di Papua dengan pendekatan ala Gus Dur,  Pendeta Nico Mauri meresponnya dengan sangat antusias. Dia bercerita panjang tentang figur dan pribadi Gus Dur yang sangat dibanggakan, dihormati dan dikagumi masyarakat Papua, termasuk dirinya. “Kita harus belajar dari figur dan pribadi seorang Gus Dur!” Ujarnya.

Menurutnya, masyarakat Papua sangat menghormati dan mengagumi Gus Dur karena Gus Dur adalah sosok yang mau mendengar dan menampung aspirasi berbagai kepentingan masyarakat Papua dan memberikan solusi yang dapat diterima, baik dari kelompok yang pro kemerdekaan atau yang pro NKRI, Seperti membolehkan pengibaran Bendera Bintang Kejora di tanah Papua, yang menurut Gus Dur dan juga masyarakat Papua merupakan simbol kultural atau budaya, bukan simbol politik. Jadi Gus Dur membolehkan pengibaran bendera Bintang Kejora, namun posisinya tidak boleh lebih tinggi dari pada bendera Merah Putih.  Selain itu, Gus Dur mengganti nama provinsi Irian Jaya menjadi Papua. Penggantian nama ini merupakan pengembalian harkat dan martabat masyarakat Papua karena memang nama Papua merupakan nama aslinya, bukan Irian Jaya.

Karenanya, menurut Pendeta Nico Mauri, Gus Dur merupakan tokoh pemersatu bangsa, pemersatu masyarakat Papua, yang pemikirannya perlu dijaga dan dirawat, “Secara khusus kami di Papua bangga dengan Gus Dur. Walau dia hanya menjabat sebagai Presiden RI berlangsung singkat, hanya  20 bulan, namun kebijakan dan tindakannya tetap terasa dan dikenang, khususnya oleh masyarakat Papua, sampai sekarang,” ujarnya.

Begitu kagumnya Pendeta Nico Mauri kepada Gus Dur, ketika saya menanyakan apakah dia mau disebut sebagai Gus Durian, dia menjawab, “ Iya, saya seorang Gus Durian (pengagum Gus Dur)!”.

Pendeta Nico Mauri pernah bertemu Gus Dur di Papua, ketika itu dia masih menjabat sebagai PNS di bagian protokolerdi Papua, dan juga bertemu Gus Dur d Istana Negara. Saking kagumnya kepada Gus Dur, pada tahun 2019, saat dia diutus untuk menyelesaikan masalah pengepungan asrama mahasiwa Papua di Surabaya  (16 Agustus 2019), dia menyempatkan diri untuk berziarah ke makam Gus Dur di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur yang disambut oleh adiknya Gus Dur, Almarhum Gus Sholah (KH Sholahudin Wahid) .

“Generasi Papua hari ini harus kaya talenta seperti Gus Dur dengan melihat kebhinekaan yang ada, keragaman agama dan keyakinan, dengan memiliki toleransi yang tinggi dan tidak membeda-bedakan. Jadilah sepert Gus Dur yang merupakan sosok penuh cinta kasih. Begitu penuhnya cintah kasih di dalam diri Gus Dur, tidak usah Gus Dur bicara. Hanya melihat gerakan atau gestur tubuhnya saja, kita sudah bisa merasakan cinta kasihnya. Saat ini, kita tidak punya lagi sosok seperti Gus Dur, kita rindu tokoh seperti Gus Dur!” Pungkas pendeta yang juga menjabat sebagai Ketua Barisan Merah Putih Kota Jayapura, Papua mengakhiri pembicaraan tentang Gus Dur.

Reporter: Rakhmad Zailani Kiki

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button